Kekuatan politik dinasti di era pasca orde baru. pantaskah?

Secara konseptual politik merupakan sebuah persaingan dalam mencapai tujuan, dan tidak serta merta tergantung pada institusionalisme lama, memang dalam pelaksanaan dan cara mencapai tujuan ada konstitusi yang mengatur didalamnya. Namun politik tetaplah politik yang dalam prakteknya penuh dipengaruhi dengan tabiat manusia. Mengingat manusia memiliki sifat tidak mau kalah dan dalam nyatanya manusia tersebut lupa akan konstitusi sehingga bersikap sewenang wenang agar dirinya mampu menjadi orang nomor satu dalam suatu region.

Kekuatan politk dinasti tidak hanya terjadi di provinsi Banten, bahkan di negera lain pun juga kedinastian dalam politik juga sangat kental. Jika di Amerika Serikat dikenal adanya dinasti Kenedy, di Pakistan dinasti Bhuto, di India dinasti Ghandi, di Filipina ada dinasti Marcos, Macapagal dan Aquino, di Myanmar ada dinasti Aung San. Ini merupakan bukti bahwasannya kedinastian politik sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Ada sebuah perbedaan antara dinasti politik di Indonesia dengan di luar Indonesia semisal Amerika Serikat, India serta Filiphina. Jika di luar negeri kedinastian dalam politik diimbangi dengan sebuah prestasi dalam hal peningkatan dan pemerataan ekonomi, budaya dan moral bangsa dan hal ini lah yang sangat berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Indonesia yang penuh dengan permasalahan KKN. Salah satu contoh simple yang mudah ditemukan di Indonesia yaitu nyaris setiap petinggi politik nasional mewariskan kekuasaan kepada keluarganya. Megawati yang mewarisi karir politik dari ayahnya Bung Karno, berlanjut menempatkan putrinya Puan Maharani sebagai salah seorang ketua PDIP.

Dibanten kita sangat mengenal kedinastian TB Chasan Sochib. Misalnya Kekuasaan atut di banten dan kemenangannya di setiap pemilihan gubernur di banten juga tidak terlepas dari kemenangan kemenangan keluarganya di kabupaten-kabupaten yang ada di banten Dan keluarganyapun banyak yang menduduki kursi pemerintahan. hal ini membuktikan bahwa Ratu Atut sedang membentuk provinsi banten dengan bentuk pemerintahan monarki dengan adanya Dinasti Atut. Hal ini tak terlepas dari dukungan ayahnya Tb Chasan Sochib sebagai seorang yang sangat berpengaruh di Banten.

Tb Chasan Sochib melalui istri pertamanya Wasiah, memiliki anak Ratu Atut Chosiyah (Gubernur Banten), Ratu Tatu Chasanah (Wakil Walikota Serang), Tb Chaeri Wardana (penguasha/Ketua AMPG Banten), suami Chaeri yakni Airin Rachmi Diany yang juga Walikota Tangerang Selatan. Dari jalur Ratu Atut, suaminya Hikmat Tomat menjadi anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar. Anak kandung Ratu Atut Andika Harzumi tercatat sebagai anggota DPD RI. Adapun istri Andika (menantu Ratu Atut) tercatat sebagai anggota DPRD Kota Serang. Istri Chasan lainnya yakni Ratu Rafia memiliki dua anak yang juga berkiprah di lembaga publik yakni Tb Haerul Jaman sebagai Wakil Walikota Serang dan Ratu Lilis Karyawati (Ketua DPD II Partai Golkar Kota Serang). Suami dari Ratu Lilis ini, Aden Abdul Khaliq tercatat sebagai anggoat DPRD Provinsi Banten.

Ini merupakan bukti bahwasannya kekuatan politik dinasti yang berkembang di Banten begitu kuat dan solidnya. Dan memang dalam kenyataannya dilapangan politik sangat mencerminkan tabiat manusia apalagi dengan perkembangan ketatanegaraan saat ini, dimana pemilihan kepala daerah dilakukan secara langsung oleh rakyat dengan dasar Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Disini rakyat sangat berperan dalam memilih pemimpinnya, tapi terkadang rakyat hanya terjebak dalam alur elit politik dengan janji-janji muluk saat kampanye yang belum tentu nantinya akan dilaksanakan atau tidak. Demi tercapainya suatu kepentingan politik maka digunakanlah politik pencitraan untuk mendapat simpati dari rakyat, cara seperti ini banyak dilakukan oleh elit politik untuk menggapai suara rakyat saat pemilu ataupun saat pemilukada, tapi selanjutnya ibarat pepatah “habis manis sepah dibuang” begitulah nasib rakyat. Ini bukanlah kesalahan system tapi melainkan kesalahan manusianya yang mempunyai sifat serakah serakah dalam mencapai tujuan. Politik dinasti merupakan sesuatu yang tersirat dan sangat membutuhkan proses yang lama. Masyarakat seolah olah buta terhadap kekuatan ini padahal jika dilihat dan ditinjau lebih dalam propinsi Banten yang diselimuti dengan kedinastian politik ini kurang begitu maju dalam segi ekonomi, budaya serta kesejahteraan sosial masyarakatnya, masih banyak daerah daerah pelosok Banten yang kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Untuk mampu menghentikan fenomena buruk ini seharusnya semua elemen masyarakat harus mampu membuka mata tentang artinya demokrasi dan tetap memperjuangkan hak suara tanpa harus dibeli dengan uang.

Politik dinasti sangat mengingatkan kita pada sistem kekhilafahan yang pada saat itu memang sangat kental dengan kedinastian, tapi itu dulu dan sangat berbeda sistemnya dengan sekarang. Pada saat nabi Muhammad wafat maka terjadi sebuah perdebatan panjang antara kaum sunni dan syiah, tentang siapa yang pantas meneruskan perjuangan kepemimpinan Beliau. Maka hasil pun memvonis Abu Bakar Sidiq sebagai penerusnya walaupun terdapat pertentangan dari kaum syiah. Mengingat abu bakar as sidiq merupakan kerabat dekat nabi Muhammad. Hal ini jelas bukan jaman kita lagi yang dimana menganut sistem demokrasi. Human Right di utamakan. Jelas jika kedinastian seperti kekuatan regional Banten kian menguat maka dikhawatirkan akan menimbulkan pertumpahan darah seperti yang terjadi pada zaman Rasulullah dalam hal perebutan dan penghentian kekuasaan.

Fakta realnya sekarang, Banten akan sulit maju bila masih digenggam keluarga dinasti pendekar. Semua orang tahu, jaringannya begitu luas, uangnya begitu tak berseri dan kekuasaan birokrasi dari Ujung Kulon hingga pintu Tol Karang Tengah digenggamnya. Anehnya, masyarakat Banten sebagian besar terbuai bahkan seolah enjoy dengan kondisi ini. Pertanyaanya, mengapa masyarakat terlena ?
Jawabanya adalah kebodohan yang masih menginggapi sebagian besar masyarakat Banten.3 Untuk keluarga dinasti sendiri sudah saatnya harus bertobat massal, kekuasaan yang berlebih pasti akan menghancurkan dirinya. Akhir pemerintahan Suharto, ujung pemerintahan Husni Mubarak dan Mohamar Khadafi adalah contoh nyata, masih kurang yakin lihat sejarah kekuasaan Fira’un. Masih belum yakin juga, silahkan keluarga dinasi mengkaji lebih dalam Al Quran tentang bahayanya kekuasaan yang berlebihan.
Banten dibawah kedinastian Ratu Atut Chosiyah nampaknya tidak menimbulkan hasil yang baik pula, Banten juga masih penuh dengan permasalahan intern maupun ekstern. Contohnya saja bisa kita lihat beberapa daerah pelosok di Banten masih belum mendapatkan perhatian khusus pemerintah.

Kekuatan ekonomi di Banten pun juga kurang memuaskan, angka pertumbuhan ekonomi di banten tahun 2011 hanya mengalami kenaikan 0.08% dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukan kurang perhatiannya banten dari kekuasaan dinasti. Sudah saatnya mahasiswa turun tangan untuk menurunkan dan memberhentikan fenomena seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s