Dilema Politik Islam, Bagaimana memposisikan Demokrasi dalam konteks Politik Islam?

Patut dipertegas bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah memberikan wasiat dan menjelaskan secara rinci tentang tata cara pengangkatan seorang pemimpin, ini merupakan fakta yang tidak bisa dihindari dalam dunia islam yang ternyata masih penuh dengan kegelapan. Alhasil setelah Nabi Muhammad wafat banyak sekali perdebatan panjang tentang siapa yang akan menjadi penerusnya dan bagaimana tata cara pengangkatan kepemimpinan setelah beliau wafat. Hal ini diperparah dengan banyak sekali pertumpahan darah pada era setelah kenabian demi mendapatkan sebuah kekuasaan. Pasca Rasulullah Saw wafat, Keempat sahabat besar Nabi menjadi khalifah. proses alih kepemimpinan masing masing khalifah terjadi dalam bermacam cara dan tentunya cara tersebut berbeda beda pula. Pada saat itu umat sempat bingung Misalnya dalam pengangkatan Abu Bakar melalui cara permusyawaratan antara dua golongan yaitu kaum muhajirin dan anshor, Umar bin Khatab melalui mandat yang diberikan oleh pendahulunya, Utsman bin Affan melalui 6 sahabat nabi yang dibentuk Umar sebelum wafat, sedangkan Ali bin Abi Thalib diangkat lewat bai’at para pengikutnya. Terjadi banyak sekali gejolak setelah Rasulullah wafat, sehingga berimplikasi pada munculya bermacam teologi teologi dalam islam yang terus berkembang hingga saat ini. Jika andaikan saja nabi Muhammad ketika masih hidup memberikan sebuah wasiat tentang siapa yang meneruskan kepemimpinannya dan menjelaskan secara rinci tentang tata cara pengangkatan seorang pemimpin, saya yakin dunia Islam tidak akan menjadi sekelam ini. Pasca Rasulullah wafat terjadi kondisi yang kurang kondusif yang mana ada yang berpendapat Ali bin Abi thalib yang berhak menggantikan Muhammad, namun ada pula yang berpendapat Abu Bakar lah yang layak menggantikan Muhammad. Dari sini saja kita sudah dapat mendapatkan mindset bahwasannya dunia islam sangat penuh dengan kegelapan dan penuh dengan kegamangan. Hingga pada akhirnya Abu bakar As sidiq yang dinobatkan sebagai pengganti Muhammad walaupun dibelakangnya banyak sekali pertentangan dan kekurangsetujuan dari beberapa pihak. Dengan adanya bermacam cara pengangkatan kepemimpinan setelah Rasulullah wafat, tentu semuanya sangat tidak relevan apabila disesuaikan dengan zaman yang sekarang ini yang dimana Demokrasi, HAM, dan Masyarakat madani menjadi sebuah keharusan. Dari 4 macam sistematika dan tata cara pengangkatan kepemimpinan setelah rasulullah wafat, saya menilai bahwa semuanya sama sekali tidak ada yang mengandung nilai demokrasi dan persamaan hak yang dimana saat ini merupakan bagian dari tuntutan umat dan menjadi isu global, karena memang semuanya itu produk sejarah yang masih terikat pada teokrasi. Walaupun saya melihat proses pengangkatan Abu Bakar lah yang sedikit saja mengarah kepada prinsip prinsip demokrasi. Karena pada masa proses terpilihnya Abu Bakar terjadi sebuah musyawarah antara Kaum Muhajirin dan Anshor. Disinilah terjadi musyawarah bersama antara kaum Anshar dan Muhajirin yang sebagaimana esensinya merupakan bagian dari demokrasi.

Ketika mendengar Rasulullah wafat, beberapa tokoh sahabat dari Anshor segera berkumpul di balai Saqifah Bani Sai’dah untuk menentukan seorang pemimpin setelah Rasulullah. tokoh yang dinominasikan adalah sahabat Sa’ad bin Ubadah dari suku kharaz, lalu tokoh tokoh Muhajirin merasa ditinggalkan dalam musyawarah itu, maka setelah mendengar kabar ada pertemuan tsb, beberapa tokoh Muhajirin yaitu Abu Bakar, Umar bin Khatab, Abu Ubaidah bin Jarrah segera menuju balai Saqifah Bani Saidah. Lalu Terjadinya pertemuan perwakilan dari dua kelompok tersebut. Di dalam musyawarah tersebut beberapa calon dimunculkan dari setiap kelompok, dari Muhajirin mengajukan Abu Ubaidah dan sebagian juga ada yang mengusungkan Abu Bakar. Di kalangan Anshar mengusungkan Saad bin Ubadah serta ahlul bait mengusulkan Ali bin abi thalib. Maka atas kesepakatan musyawarah yang terjadi di balai Saqifah Bani Saidah , Abu Bakar terpilih menjadi Khalifah. Musyawah pada dasarnya merupakan salah satu cara yang tepat dalam usaha menyelesaikan suatu permasalahan, jika kita kaitkan apa yang terjadi pada masa setelah Rasulullah wafat yang sebagaimana tidak memberikan wasiat tentang bagaimana cara pengangkatan pemimpin dengan kondisi sekarang nampaknya kita cukup melapangkan dada dengan apa yang terjadi sekarang ini. Andai saja Nabi Muhammad memberikan wasiat terkait hal itu saya saya umat islam tidak akan tepecah belah seperti sekarang ini. Juga dalam Al Quran tidak dijelaskan tentang bagaimana memposisikan agama dalam konteks kenegaraan, semakin memperkeruh sebuah perdebatan panjang yang terjadi sampai sekarang ini. Terkait hal itu muncul beberapa pemikir dan cindekiawan muslim yang mencoba mencari sebuah jawaban atas masalah ini. Ada kelompok islam yang mengatakan bahwa Agama dan Negara merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dan ada juga yang mengatakan keduanya dapat dipisahkan (sekulerisme). Bertempat di Al Quds, Yordania pada tahun 1953, dia adalah Syekh Taquyuddin An-Nabbani mendirikan sebuah kelompok yang pada tujuan dasarnya adalah ingin kembali mendirikan daulah khilafah, dinamakanlah pula Hizbut Tahrir yang sampai sekarang masih eksis didalam perbincangan. Dan ada juga kelompok islam moderat yang mendukung sekulerisme, (memisahkan Agama dan Negara) seperti JIL.

Menurut saya Khilafah adalah bagian dari sejarah yang penuh dengan kekurangan dan dirasa sangat tidak tepat apabila Indonesia mengubah sistemnya dari demokrasi menjadi Negara dengan hukum islam (daulah khilafah).  orang orang yang menyuarakan Khilafah mengatakan bahwa demokrasi adalah kuffur dan bertentangan dengan islam . lucu saya kira apabila saya berdiskusi dengan orang orang semisal Hizbut Tahrir Indonesia. orang orang HTI beranggapan sistem khilafah itu adalah sempurna, sedangkan sistem lainnya (demokrasi, kapitalis, sosialis, dll) adalah buatan manusia dan kuffur. Dalam sebuah diskusi, apabila saya menemukan contoh “jelek” dalam sejarah Islam, maka orang HTI buru-buru bilang, “yang salah itu manusianya, bukan sistem Islamnya!”. Tapi kalau orang HTI  melihat contoh “jelek” dalam sistem lain seperti demokrasi, mereka cenderung untuk bilang, “demokrasi hanya menghasilkan kekacauan!” Jadi, yang disalahkan adalah demokrasinya. Sangat tidak berkompeten sebuah tanggapannya mereka, yang cenderung menerapkan standar ganda.

Sulit sekali saya menemukan teman teman HTI yang bersikap adil dan akademisis dalam mendiskusikan sebuah permasalahan. Dari kacamata akademis kita melihat bahwa yang disebut sistem khilafah itu sebenarnya merupakan sistem yang juga tidak sempurna, karena ia merupakan produk sejarah, dimana beraneka ragam pemikiran dan praktek telah berlangsung. Sayangnya, karena dianggap sudah “sempurna” oleh teman teman Islam Fundamental maka sistem khilafah itu seolah-olah tidak bisa direformasi. Padahal banyak sekali yang harus direformasi.

Contoh: dalam sistem khilafah pemimpin itu tidak dibatasi periode jabatannya (tenure). Asalkan dia tidak melanggar syariah, dia bisa berkuasa seumur hidup. Dalam sistem demokrasi, hal ini tidak bisa diterima. Meskipun seorang pemimpin tidak punya cacat moral, tapi kekuasaannya dibatasi sampai periode tertentu. [6]

Saya maklum kenapa sistem khilafah tidak membatasi jabatan khalifah. Soalnya pada tahun 1924 khilafah sudah bubar, padahal pada tahun 1933 (the 22nd Amendment) Amerika baru mulai membatasi jabatan presiden selama dua periode saja. Sayangnya, buku tentang khilafah yang ditulis setelah tahun 1933 masih saja tidak membatasi periode jabatan khalifah. Itulah sebabnya kita menyaksikan bahwa dalam sepanjang sejarah Islam, khalifah itu naik-turun karena wafat, dibunuh, atau dikudeta. Tidak ada khalifah yang turun karena masa jabatannya sudah habis.

Contoh lainnya, sistem khilafah selalu mengulang-ulang mengenai konsep baiat (al-bay`ah) dan syura. Tapi sayang berhenti saja sampai di situ (soalnya sudah dianggap sempurna). Dalam tradisi Barat, electoral systems itu diperdebatkan dan terus “disempurnakan” dalam berbagai bentuknya. Dari mulai sistem proporsional, distrik sampai gabungan keduanya.

Begitu juga dengan sistem parlemen. Dari mulai unicameral sampai bicameral system dibahas habis-habisan, dan perdebatan terus berlangsung untuk menentukan sistem mana yang lebih bisa merepresentasikan suara rakyat dan lebih bisa menjamin tegaknya mekanisme check and balance.

Jadi sangat tidak relevan apabila Daulah Khilafah ditegakkan di Indonesia ini. Disamping begitu banyak sekali perbedaan yang menghinggapi Indonesia yang seharusnya menuntut kita untuk bersikap Pluralisme demi terciptanya suasana yang adil, tentram, damai, harmonis diatas segala macam perbedaan. Karena itu lah nilai islam yang sesungguhnya.  Carut marutnya demokrasi bisa dikatakan lebih minim apabila kita bandingkan dengan carut marutnya system Khilafah yang masih belum jelas. Demokrasi adalah bagian dari perkembangan Zaman, jadi kalau ada yang menolak Demokrasi itu artinya saja saja menolak zaman. Indonesia adalah Negara yang terpandang di dunia barat khusunya eropa karena Indonesia adalah contoh bagus bagi praktek nilai nilai islam dan demokrasi, karena warga negaranya bisa melaksanakan nilai islam dan demokrasi sekaligus secara bersama sama. Negara muslim seperti Pakistan, Iran, Afganistan, Saudi Arabia, Yaman pada dasarnya belum mampu melaksanakan Islam dan Demokrasi secara bersama sama dan cenderung melakukan aturan syariat secara ketat. Di Negara seperti Libya, Iran, Sudan, Pakistan, dan Somalia. Islam ditampilkan dalam bentuk sebagai revolusi atas nama agama terhadap pemerintah sebelumnya. Revolusi tersebut ditunjukan dengan lantang sebagai otot agama atas Negara.Oleh karenanya banyak peneliti diberbagai dunia sangat mengharapkan Negara muslim di dunia harus mencontoh Indonesia, karena Indonesia sebagai Negara muslim terbesar didunia yang mampu menjalankan nilai Islam dan demokrasi secara bersama sama. Indonesia adalah harapan bagi dunia islam untuk menunjukan jati diri Islam yang sebenarnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s