Pemikiran Ibnu Rusyd dan Pengaruhnya Hingga Masa Kini

Banyak yang berargumen “pemikiran Ibn Rusyd diambil oleh barat sehingga barat lebih maju, sedangkan pemikiran al Ghazzali dibawa ke timur dan oleh karena itu barat lebih maju dari timur” kesimpulan ini tersebar di kalangan diskusi mahasiswa ciputat dan masyarakat luas.

Pemikiran Ibnu Rusyd memang sangat popular di Barat karena gagasan integrasi  filsafat  dan  agamanya. Masalah agama dan falsafah atau wahyu dan akal adalah bukan hal yang baru dalam pemikiran islam, hasil pemikiran pemikiran islam tentang hal ini tidak diterima begitu saja oleh sebagian sarjana dan ulama islam. Ibnu Rusyd tampil membela keabsahan pemikiran yang membenarkan kesesuain ajaran agama dengan pemikiran falsafah. Menurut Ibnu Rusyd, Syara’ tidak bertentangan bertentangan dengan filsafat, karena fisafat itu pada hakikatnya tidak lebih dari bernalar tentang alam empiris ini sebagai dalil adanya pencipta. Dalam hal ini syara’pun telah mewajibkan orang untuk mempergunakan akalnya, seperti yang jelas dalam irman Allah : “Apakah mereka tidak memikirkan (bernalar)tentang kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah.” (Al-Araf: 185)

Pemikirannya tersebar luar di eropa dan banyak diterapkan di gereja gereja sehingga menjadi gerakan Averrois. Namun averroism tidaklah murni mengikuti ajaran Ibnu Rusyd tetapi telah tercampur dengan aristotelianisme radikal dan heterodok. Ide utamanya adalah: Filsafat dan wahyu. Dikenal dengan teori kebenaran ganda, keabdian alam, kesatuan akal manusia dan kebangkitan orang mati.

Dari abad 13-16 Averroism terus berkembang menjadi tren pemikiran barat yang dominan, khususnya di Prancis. Selain dikritik, pemikiran Ibnu Rusyd  Dalam rangka membela falsafat dan para filosof muslim dari serangan para ulama, terutama serangan dari al-Gazâlî , Ibnu Rusyd antara lain menegaskan bahwa antara agama (Islam) dan falsafat tidak ada pertentangan. Falsafat pada hakikatnya tidaklah lain dari berfikir tentang semua yang dijumpai untuk mengetahui pencipta/penyebab segala yang ada. Al-Qur’an juga menyuruh manusia berfikir tentang alam yang tampak. ini dalam rangka mengetahui Tuhan. Dengan demikian, sebenarnya AI-Quran menyuruh umat manusia untuk melakukan aktivitas falsafat dan dapat disimpulkan berdasarkan perintah al-Qur’an itu bahwa kaum muslimin wajib melakukan aktivitas falsafat itu atau paling kurang dianjurkan berfalsafat atau mempelajari falsafat, dan bukan dilarang atau diharamkan. Menurut Ibnu Rusyd, bila ada teks wahyu yang dalam arti lahiriahnya bertentangan dengan pendapat akal, maka teks wahyu itu haruslah ditakwilkan atau ditafsirkan sedemikian rupa sehingga menjadi sesuai dengan pendapat akal. Dunia barat (Eropa) pantas berterima kasih pada Ibnu Rusyd. Sebab, melalui pemikiran dan karya-karyanyalah Eropa melek peradaban. “Suka atau tidak, filosofi Cordova dan mahagurunya, Ibnu Rusyd, telah menembus sampai ke Universitas Paris,” tulis Ernest Barker dalam The Legacy of Islam.

Apresiasi dunia Barat yang demikian besar terhadap karya Rusyd, “Averroisme merupakan faktor yang hidup dalam pemikiran Eropa sampai kelahiran ilmu pengetahuan eksperimental modern. Ibnu Rusyd adalah seorang rasionalis, dan menyatakan berhak menundukkan segala sesuatu kepada pertimbangan akal, kecuali dogma-dogma keimanan yang diwahyukan. Tetapi ia bukanlah free thinker, atau seorang tak beriman.

Pemikiran pokok Ibnu Rusyd yang cenderung rasional dan menundukan segalanya kepada pertimbangan akal (kecuali dogma-dogma keimanan yang diwahyukan) ini mempengaruhi dunia islam yang sekarang. Atas sumbangsih pemikiran rusyd, Islam berhasil dijadikan sebuah bentuk perlawanan terhadap aksi kelompok fundamental yang menebar terrorisme. Kemunculannya membuat Islam sebagai salah satu alternatif versi Islam yang berkembang  masa kini dan tentu diminati banyak kalangan. Dialog-dialog keagamaan yang mengarah pada tatanan yang damai, toleran, dan berkeadilan merupakan indikasi bahwa sumbangsih pemikiran Ibnu Rusyd masih sangat berpengaruh sampai sekarang. Model islam secara moderat sebagai pilihan dan tuntutan terhadap islam untuk menjadi solusi bagi peradaban dunia dan umat manusia. Moderatisme juga dinilai paling kondusif di masa kini. Konsep “Islam moderat” merujuk pada makna ummatan wasathan (QS al-Baqarah [2]: 143). Kata wasath dalam ayat tersebut berarti khiyâr (terbaik, paling sempurna) dan ‘âdil (adil). Dengan demikian, makna ungkapan ummatan wasathan berarti umat terbaik dan adil dalam koridor syariah. Inilah yang membuat Islam pantas menjadi alternatif dan solusi.  Dalam praktiknya, Islam moderat selalu mencari jalan tengah dalam menyelesaikan persoalan. “Perbedaan” dalam bentuk apa pun dengan sesama umat beragama diselesaikan lewat kompromi yang menjunjung tinggi toleransi dan keadilan sehingga dapat diterima oleh kedua belah pihak. Melalui cara itu pula, masalah yang dihadapi dapat dipecahkan tanpa jalan kekerasan.

Model islam seperti yang diatas lah yang menurut saya menjadi salah satu tuntutan umat islam yang relevan masa kini dalam misinya untuk menjadi solusi atas segala macam permasalahan. Kerukunan dan kedamaian adalah dambaan bersama. Persaudaraan dan cinta kasih merupakan manifestasi dari peran dan fungsi agama, sebab semua agama mengajarkan kepada umatnya akan cinta kasih kepada sesama manusia.  Dunia sangat membutuhkan upaya serius dalam menjalin dialog antar agama, memperjuangkan perdamaian dan keadilan. Bukan terus menerus mempertajam perbedaan. Seharusnya kita mencari jalan keluar dari persoalan dunia berdasarkan nilai nilai yang kita anut sekarang. Agama seharusnya menjadi menjadi lentera harapan dan memberi yang baik untuk semua kalangan umat manusia. Perang atau terrorisme tidak dijalankan atas nama agama, agama seharusnya menuntun kita menuju resolusi konflik, perdamaian, dan dunia yang adil. Dalam segala macam perbedaan di dunia ini kita dituntut bersikap moderat untuk dapat menyikapi ajaran ajaran radikalisme.

Kita harus berangkat dari keyakinan bahwa Islam adalah agama moderat. Islam merupakan moderasi atau antitesis dari ekstrimitas agama sebelumnya, di mana ada Yahudi yang sangat “membumi” dan Nasrani yang terlalu “melangit”. Islam merupakan jalan tengah dari dua versi ekstrim di atas dan memadukan “kehidupan bumi” dan “kehidupan langit”. Itulah makna dari ummatan wasathan (umat pertengahan, pilihan dan adil).

Konsep Islam moderat bukan berarti sikap yang tidak berpihak kepada kebenaran serta tidak memiliki pendirian untuk menentukan mana yang haq dan bathil. Muslim moderat juga bukan orang munafik yang selalu cari aman, “plin-plan” dan memilih-milih ajaran Islam sesuai dengan kepentingannya. Muslim moderat berkeyakinan bahwa totalitas Islam merupakan agama yang selalu modern, tidak bermusuhan dengan dinamika dunia dan umat beragama lainnya. Seperti ini lah model islam yang harus digiatkan dan terus di implementasikan secara nyata demi terwujudnya rasa pluralisme diatas keberagaman serta kehidupan adil dan toleran  dan menjadi tuntutan umat masa kini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s