Toleransi dalam kerancuan

Apakah sebagai umat manusia harus bersikap Toleransi terhadap Intoleransi? Mungkin itu satu satunya kalimat dan juga pertanyaan pokok bagi para pembaca setelah membaca artikel yg ditulis oleh Fransisco Budi Hardiman, dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara. Toleransi kini menjadi trending topic belakangan ini karena seiring terjadinya tindakan amoral atas nama agama. Pasca runtuhnya orde baru, munculnya tindakan penodaan atas nama kebebasan berekspresi pun menjadi permasalahan serius. seperti yang terjadi pada Seperti yang terjadi akhir akhir ini pada kasus GKI Yasmin Bogor.

Diluar itu pemerintah dinilai lemah dalam menghakimi tindakan intoleransi, pemerintah bersikap toleransi terhadap intoleransi sehingga jadilah apa yang disebut Negara lembek. Indonesia merupakan Negara paling demokrasi ketiga di dunia walaupun lebih dari 90% masyarakatnya beragama islam. Ini adalah capaian yang cukup mengagumkan sebagai Negara muslim terbesar. Sehingga banyak pengamat internasonal yang menilai Indonesia sebagai Negara percontohan demokrasi dunia.

Sebagai negara demokrasi yang mayoritas muslim, yang dimana demokrasi merupakan sebuah paham yang mengajarkan pada kebebasan berpendapat, berekspresi serta berkumpul maka tak heran kini Indonesia disungguhkan pada kemunculan kelompok garis keras atas nama Agama yang memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri.  Atas nama kebebasan demokrasi secara konseptual memang sah sah saja. Tetapi jika ini dibiarkan tentu akan menjadi boomerang terhadap keberadaan demokrasi itu sendiri. Pemerintah dinilai lamban dalam menyikapi kelompok kelompok radikal alias pemerintah masih bersikap toleran terhadap tindakan intoleransi. Itulah toleransi yang dinilai masih rancu.

Disamping itu permasalahannnya bukan hanya berhenti disitu saja. harapan yang ditujukan bukan hanya pemerintah untuk bersikap intoleransi terhadap pihak yang melakukan sikap intoleransi demi terjaganya nilai toleransi. Toleransi pada dasarnya mengajarkan kita untuk bersikap terbuka terhadap apa yang disebut perbedaan, dan itu pun sudah dijelaskan dalam Al Quran surat Al-Kafirun.  karena pada hakekatnya tidak mungkin di dunia ini seluruhnya sama.

Toleransi kini bukan hanya sekadar toleransi yang sebagaimana yang dibicarakan oleh publik. Karena sekarang pun seringkali kata “toleransi” memiliki standar ganda yang dalam faktanya, kata ini seringkali sebagai satu satunya senjata andalan oleh para kelompok dengan nama Islam yang menggunakan ajektif Liberal dibelakangnya dalam menjalankan misinya.

Kini pun toleransi memiliki bermacam tafsir yang tergantung bagaimana seorang menyikapinya. Toleransi pada hakekatnya memang sangat diperlukan dalam menyikapi perbedaan, namun ada hal unik dibalik kata toleransi yang nyatanya masih bersifat rancu terutama tentang bagaimana toleransi dari sudut pandang islam. Dalam hal ini saya menggarisbawahi toleransi menjadi dua konsepsi, yakni Toleransi dalam menyikapi perbedaan dan toleransi dalam dogma agama.

Toleransi dalam perbedaan yang dimaksud adalah bersikap terbuka dan menghargai terhadap apa yang menjadi perbedaan, hal ini masih terlihat global dan memiliki jangkauan yang luas. Semisal: A adalah beragama islam dan B adalah beragama Kristen, keduanya berjalan bersama dan berdiskusi bersama tanpa melihat sentiment keagamaan. Hal itu adalah Toleransi yang menimbulkan sisi positif dan sangat layak untuk di budayakan ke ranah politis.

Selain itu juga ada Toleransi dalam dogma agama, ini lebih di perdalam lagi bahasannya.dan konsepnya pun berbeda dengan toleransi sebelumnya diatas. Jika melihat fenomena sosial politik pada saat ini, kita seringkali mendengar gagasan Islam Liberal yang dalam ajaran menggagas posisi islam yang bebas sesuai akal pikiran manusia. Karena pada dasarnya penggunaan akal yang berlebih dalam menafsirkan ayat ayat kitab suci dalam dogma agama akan menjerumuskan kita pada posisi yang menjauh dari akidah. Contoh: pada awal tahun 2012, kontributor Jaringan Islam Liberal bernama Luthfi Assyaukanie yang juga merupakan dosen Universitas Paramadina dengan lantang mengatakan “wanita menggunakan jilbab adalah hal bodoh”  dia menafsirkan posisi jilbab sama seperti swimsuit. Dia mengatakan jilbab itu penggunaannya bersifat situasional. Menurutnya Jilbab dipakai hanya untuk beribadah dan mengaji, jadi jika ada wanita yang menggunakan jilbab selain untuk aktivitas mengaji dan beribadah itu adalah hal yang sangat tidak masuk akal dan bodoh. Hal ini bertentangan dengan Al Quran yang  ditegaskan dalam surat QS. Al-Ahzab: 59

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59).

Dalam surat tersebut telah jelas bahwa Islam melalui Al Quran menganjurkan kaum hawa untuk menggunakan jilbabnya, bukan hanya pada saat beribadah ataupun mengaji saja. Lantas apakah sebagai umat islam yang masih mempercayai Al Quran sebagai wahyu dari Allah bisa bersikap toleransi terhadap orang yang mengatakan “memakai jilbab itu bodoh” seperti yang dilontarkan oleh sauadara Luthfi Assyaukanie diatas? Seharusnya disamping kita bersikap toleran dan pluralis kita seharusnya jangan melupakan ajaran ajaran islam. Jika terjadi kebebasan yang kebablasan seperti yang terjadi diatas justru itu pun sangat tidak baik.

Saat ini toleransi pun menjadi kata yang cukup populer dalam dunia sosial politik dan toleransi pun kerap menjadi senjata andalan bagi kalangan islam liberal yang menggagas kebebasan dalam menjalankan ritual duniawi, karena pada hakekatnya kebebasan yang kebablasan justru akan menjerumuskan manusia pada posisi yang tidak terkendali dalam menjalankan aktivitasnya. Memang toreransi itu sangat diperlukan untuk menjawab tantangan perbedaan di negeri ini. Tapi apakah kita rela mengorbankan akidah keagamaan demi menjaga apa yang dinamakan toleransi seperti apa yang dilakukan oleh sdr Luthfi Assyaukanie?  Memang hakekatnya hampir sama dengan paham Inklusifisme dengan prinsip Pluralisme. Inklusifisme adalah paham yang menganggap agama kita dengan agama lain itu adalah sama dan saling mengisi. Mungkin agama kita salah dan mungkin agama lain benar. Pluralisme agama merupakan sebuah ajaran sikap yang mengajarkan bahwa semua adalah sama dan banyak yang menilai Pluralisme itu perlu untuk di terapkan dalam kehidupan masa kini. Pluralisme adalah salah satu ajaran yang sesuai dengan semangat zaman yang juga merupakan warisan filsafat pencerahan 300 tahun yang lalu melalui pendapat Immanuel Kant tentang agama sebagai lembaga moral. Tetapi sebagai insan cerdas, masalah pluralisme agama lebih baik seharusnya hanya untuk di permukaan saja supaya lebih terlihat rendah hati dan toleran daripada menerapkan sikap inklusif yang tetap diyakini oleh  umat manusia.

Intinya adalah disamping kita bersikap toleran kita juga percaya terhadap apa yang diajarkan dalam dogma agama. Pluralisme mengusulkan agar masing masing saling menerima karena masing masing tidak lebih dari relugiusitas manusia. Dan kalau begitu tentu saja mengklaim kepenuhan kebenaran tidak masuk akal. Namun nyatanya kaum islam liberal dalam ajarannya pun cenderung agar islam melepaskan klaimnya bahwa Allah dalam Al Quran memberi petunjuk definitive.

Mengutip komentar Fransisco Budi Hardiman, dosen STF Driyarkara, “Sikap-sikap toleran yang sudah ada pada ranah kultural harus diangkat ke ranah politis dalam bentuk sistem hak-hak yang dijamin oleh Negara. Jika tidak kekerasan dan intoleransi terus dibiarkan negera, tidak mustahil jika toleransi yang sudah tertata apik di lapisan akar rumput akan rusak”. Toleransi merupakan syarat utama dalam kehidupan politik. Maka Untuk menjaga toleransi tidak mungkin ada toleransi atas intoleransi. Dalam pandangan luas, Masyarakat harus bersikap toleransi namun Pemerintah harus bersikap Intoleransi terhadap Intoleransi, karena jika Negara juga ikut bersikap toleransi dalam menindak intoleransi seperti yang masyarakat lakukan maka secara perlahan tatanan Negara akan menjadi rancu. Posisi Negara memiliki peran yang cukup penting. Karena melalui konsep itulah akan berimplikasi pada ketahanan Negara dan tidak menjadi Negara yang lembek.

Dewasa ini alangkah lebih bijak dan baiknya kita juga mampu memposisikan toleransi dalam dogma agama. Daripada menjadi bangsa yang toleran dan bersikap pluralisme tetapi dalam prakteknya kian meninggalkan dogma agama seperti apa yang terjadi pada komunitas Jaringan Islam Liberal dalam gagasannya terlalu menggunakan akal secara berlebih.   Alangkah lebih baik dan bijak menjadi bangsa yang toleran dan bersikap pluralism tetapi tidak meninggalkan dogma agama.  Jadi antara toleransi dan dogma agama itu seharusnya dalam posisi yang saling melengkapi bukan saling mengorbankan salah satunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s