Mewujudkan Peran Ospek yang Bervisi Akademis

KEGIATAN ospek kini menjadi sebuah ritual yang melembaga pada institusi pendidikan di Indonesia. Kalau di SMA lebih dikenal dengan Masa Orientasi Sekolah (MOS), maka kalau di tingkat perguruan tinggi dikenal dengan Orientasi Studi Pengenalan Kampus (OSPEK). Secara mendasar tujuan dari kegiatan ospek ini adalah sangat baik, yakni mempersiapkan mahasiswa baru untuk mengetahui lingkungan kampus secara lebih mendalam. Kegiatan ospek ini bisa dikatakan sebagai interaksi awal antara mahasiswa baru dengan lingkungan kampus.

Ada banyak pendapat yang bermunculan ketika mendiskusikan kembali peran dan tujuan ospek yang tiap tahunnya dilakukan di setiap perguruan tinggi di Indonesia. Ada yang menilainya dengan tanggapan positif, bahkan tidak jarang banyak yang menilai negatif. Tetapi faktanya lebih banyak kalangan yang menilai negatif serta merasa kecewa dengan pelaksaan ospek yang seringkali tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan.

Tentu semua berharap apa yang didapat ketika ospek adalah sesuatu yang berharga, yakni pelaksanaan ospek yang bervisi akademis, bukan bervisi balas dendam. Namun yang muncul di media massa adalah kerap kali pelaksanaan ospek tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, yakni diwarnai banyak tindakan kurang terpuji yang dilakukan oleh senior terhadap mahasiswa baru. Seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) yang dulu bernama Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Seorang praja bernama Wahyu Hidayat tewa akibat tindakan amoral yang dilakukan oleh seniornya pada saat mengikuti ospek.

Dalam pelaksanaan ospek sering kali muncul jargon yang sangat popular yakni “Senior selalu benar dan Junior selalu salah”. Dan sampai saat ini pun jargon tersebut masih laris dipakai oleh para senior dalam pelaksaan ospek di kampus-kampus. Keberadaan jargon tersebut memunculkan sebuah kerangka berpikir bahwa ospek adalah ajang semi militeristik, yang mengharuskan junior tunduk kepada senior. Apabila tidak tunduk, maka sinyal bahaya akan menjemputnya. Kondisi ini menunjukkan, seakan-akan ospek menjadi ajang balas dendam rutin yang dilakukan oleh senior kepada junior dari tahun ke tahun. Bahkan, banyak kalangan menilai hal ini sebagai budaya. Hal tersebut yang membuat ospek mendapat banyak kecaman sehingga membuat khawatir setiap orangtua mahasiswa baru.

Ilmuwan sosial Max Weber dalam teorinya menyatakan, ada hubungan dekat antara kekuasaan dan kekerasan. Kekerasan sering kali dipakai oleh manusia untuk melaksanakan dan memperbesar kekuasaan. Dan hal tersebut sering diterapkan dalam kasus ospek, seperti sang senior memaksakan impulsi-impulsi primitif, dengan meminta permintaan yang aneh-aneh, dan sang junior mau tidak mau harus tunduk dan menaatinya. Pemaksaan ini membuat sang senior seolah-olah menjadi raja yang berkuasa. Padahal secara esensi tujuan dari pelaksanaan ospek bukan seperti itu.

Salah satu tujuan dari ospek adalah membangun disiplin. Dalam hal ini, disiplin yang dimaksud bukanlah disiplin mati ala militer, tetapi disiplin kreatif. Terdapat perbedaan fundamental di antara kedua disiplin tersebut. Disiplin kreatif bisa dikatakan sebagai penegakan disiplin yang mengutamakan asas kreativitas serta mengedepankan sisi kemanusiaan, sikap arif, bijaksana, ramah dan bervisi akademis. Berbeda dengan disiplin mati ala militer yang lebih mengedepankan otot dan menafikan seluruh argumentasi. Jadi harus dibedakan dahulu antara disiplin militer dengan disiplin kreatif, jangan disama-samakan. Tidak ada pilihan lain lagi, ospek yang bervisi balas dendam ala militer tersebut harus diganti dengan ospek yang bervisi akademis. Hal tersebut penting dalam upaya mengembalikan makna esensi dari kegiatan ospek yang kini sudah dicemari oleh tindakan amoral yang ditujukan kepada mahasiswa baru. Sehingga orangtua tidak perlu lagi khawatir akan keberadaan anaknya dalam menjalani ospek.

Ospek harus dilakukan dengan konsep yang mendidik dan sesuai dengan tujuan awalnya, yakni seperti kegiatan pengenalan kampus, pengenalan organisasi, dosen, UKM, prestasi, perencanaan studi serta sanksi akademis yang berlaku di kampus, dan lain-lain. Dengan begitu seluruh kegiatan ospek pasti lebih berjalan efektif dan lebih menunjukan aspek intelektual yang bermutu. Melalui kegiatan ospek peran senior atau kakak kelas memiliki fungsi yang sangat vital. Peran senior seharusnya memberikan arahan, membimbing, memberikan motivasi serta mendorong para mahasiswa baru untuk menjadi generasi yang mampu menjaga nama baik kampus serta memiliki andil besar sebagai agent of change dalam menjawab persoalan bangsa Indonesia di masa mendatang.

Tentu hal tersebut membutuhkan sebuah kesadaran bersama untuk bisa memutuskan rantai militer dalam ospek. Sekarang sudah saatnya kita sebagai mahasiswa dan golongan intelektual kampus mampu bertindak sewajarnya saja dalam menyikapi hal-hal seperti ini. Oleh karena itu melalui tulisan ini saya menganjurkan kepada seluruh teman mahasiswa yang ambil bagian dalam pembekalan mahasiswa baru untuk mampu bersikap sebagaimana mestinya. Ospek yang selama ini dinilai kurang terpuji dan memperlihatkan kekerasan fisik harus segera diubah menjadi ospek yang bervisi akademis. Hal tersebut penting sebagai langkah awal dalam mewujudkan situasi kampus yang elegan.

 

 

Artikel ini juga dimuat di halaman okezone.com http://kampus.okezone.com/read/2012/08/02/367/672285/mewujudkan-peran-ospek-yang-bervisi-akademis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s