Siapakah Penyandang Gelar ‘Pahlawan’ Masa Kini?

Kata pahlawan selalu menarik untuk diperbincangkan dalam perjalanan sejarah, oleh karenanya tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati hari pahlawan yang jatuh pada setiap 10 November untuk mendefinisikan kembali pengertian pahlawan dan untuk siapa gelar pahlawan itu disandang pada masa sekarang ini.
 
Ketika pada masa-masa penjajahan bangsa kolonial, kita mengenal sosok seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Natsir, Tan malaka, kaum ulama dan lain-lain yang merupakan tokoh penting dalam proses memperebutkan kemerdekaan. Kontribusi para pejuang kemerdekaan pada masa lalu begitu terasa hingga sampai saat ini kita bisa menghirup udara segar di tanah Indonesiai Mungkin tanpa sosok-sosok seperti yang disebutkan diatas kondisi Indonesia belum tentu akan se-tentram ini, terlepas dari masih banyaknya konflik dan permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.
 
Sejenak mereview kembali perjuangan bangsa Indonesia dalam memperebutkan kemerdekaan  yakni ketika memasuki awal tahun 1940-an, para intelektual dari generasi pertama, seperti Agus Salim, Tjokroaminoto, Sjahrir yang telah dianggap sebagai “the grand old men” namun pengaruh politik mereka mulai surut akibat dari kebijakan Jepang yang memberhanguskan aktivitas politik bangsa Indonesia dengan melakukan pembubaran MIAI dan GAPI dan digantikan dengan pendirian Masyumi oleh Jepang.
 
Meskipun aktivitas politik bangsa Indonesia diberhanguskan, berkat kelihaian para pejuang kemerdekaan, para tokoh kemerdekaan berhasil memobilisasi massa dengan melakukan gerakan politik bawah tanah. Misalnya pada kelompok pemuda Amir Sjarifuddin (Ketua Gerindro) yang melakukan gerakan bawah tanah dengan dukungan P.J.A. Idenburg merekrut ke dalam jaringan bawah tanahnya mantan-mantan anggota Gerindo dan anggota-anggota PKI ilegal yang secara diam-diam telah dihidupkan kembali oleh Muso pada tahun 1935.
 
Setelah runtuhnya jaringan bawah tanah Sjarifuddin pada awal tahun 1943, sosok Sutan Sjahrir muncul dan menjadi gerakan bawah tanah yang fenomenal. Sjahrir mendapatkan dukungan utamanya dari kalangan pemuda-pelajar dan juga membangun jaringan luas dengan pemuda pedesaan lewat koperasi-koperasi petani kecil. Selain itu, muncul sosok-sosok lainnya seperti Tan Malaka, serta lingkaran Islam Mohammad Natsir. Setiap kelompok ini mengembangkan sayap pemuda-pelajarnya sendiri, yang terdiri dari para pelajar sekolah menengah dan mahasiswa yang radikal yang jumlahnya meningkat pesat sebagai hasil dari perubahan-perubahan dalam rezim pendidikan dan kondisi persekolahan.
 
Politik gerakan bawah tanah dalam memobilisasi massa menjadi strategi jitu bagi para pejuang kemerdekaan dalam memobilisasi massa untuk melakukan pemberontakan kepada para penjajah.
 
Pada tahun 1940-an, seluruh elemen masyarakat dari berbagai kelompok seperti Islam, Nasionalis, serta orang-orang kiri bersatu dalam mewujudkan tekad untuk mendapatkan kemerdekaan Indonesia. Begitu besarnya kontribusi para pejuang kemerdekaan melalui strategi gerakan bawah tanahnya dalam memperjuangkan Indonesia.
 
Pada era reformasi sekarang ini, sulit sekali menemukan sosok pahlawan yang rela memperjuangkan hidupnya untuk negara, bagaimana tidak? Pada tataran elit pemerintahan saja sangat mudah untuk menemukan tindakan yang cenderung merusak negara seperti korupsi, money politics, kolusi, komersialisasi sumber daya, ketahanan pangan, jual-beli hukum serta nepotisme. Terlebih untuk kasus korupsi yang sulit dibendung sampai ke akar yang paling bawah. Tataran elit pemerintahan lebih mengutamakan kepentingan kelompoknya ketimbang kepentingan Negara, oknum seperti itu jelas tidak akan memberikan kemajuan bagi Negara. Lantas kategori pahlawan masa kini layak diberikan kepada siapa?
 
 
Pahlawan Masa Kini Semakin Tidak Dianggap
 
Namun sebuah pertanyaan menggelitik pun datang, sebenarnya gelar pahlawan saat ini seharusnya layak ditujukan kepada siapa? Menurut penulis, pahlawan masa kini adalah dia yang kehidupannya semakin tidak dianggap dan ditelantarkan oleh negara. Dia adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI), Pemulung, Pembersih Jalanan serta Tenaga Kerja Wanita (TKW) adalah pahlawan masa kini yang kehidupannya tidak dianggap.
 
Sosok pahlawan masa kini bukan hanya untuk orang yang memanggul senjata saja, tetapi yang terpenting adalah dedikasi dan perjuangannya untuk negara yang tidak bisa dihitung harganya. Kita tidak usah mempertanyakan lagi kontribusi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja wanita (TKW) dalam memperjuangkan devisa negara, mereka yang hidup di negeri orang, kerap kali mendapatkan siksaan dari majikan namun dalam hal ini pemerintah Indonesia kurang memberikan perlindungan kepada mereka dan cenderung acuh tak acuh.
 
Selain itu juga ada pembersih jalanan atau pemulung yang setiap harinya memungut sampah untuk keperluan hidupnya. Untuk pekerjaan ini tentu banyak mendapatkan cacian dan cemoohan dari berbagai masyarakat, namun sebagian masyarakat dan pemerintah nampaknya masih buta akan kemuliaan pekerjaan ini. Mereka yang memungut sampah setiap harinya telah menjadi sosok yang layak diperhitungkan ke dalam daftar pahlawan masa kini.
 
Kesetiaan sang pemulung untuk memungut sampah-sampah berserakan seharusnya mendapatkan apresiasi yang lebih dari pemerintah. Mengingat pekerjaan ini adalah tidak mudah namun memberikan efek positif bagi kelangsungan lingkungan hidup yang bersih bagi suatu negara. Meskipun sering pandang remeh, sang pemulung tetap setia dalam pekerjaannya. Hal yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah ini justru dalam kenyataan selalu tersudutkan dalam berbagai fenomena. Misalnya penggusuran lahan yang kebanyakan adalah rumah bagi pemulung untuk melangsungkan hidupnya.
 
Pemulung adalah pahlawan masa kini yang kenyataannya semakin tersudutkan dalam strata di masyarakat. Rendahnya strata di masyarakat dan tingginya kontribusi bagi kebersihan lingkungan hidup suatu negara memunculkan gap yang sangat jauh antara realitas dan appreciate.  Semakin mempertegas posisi peran pemulung sebagai pahlawan masa kini yang tak dianggap.
 
Dalam momentum hari pahlawan ini, penulis memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada pemulung yang telah memberikan sumbangsihnya bagi kebersihan lingkungan hidup. Meskipun mendapatkan cemoohan dan diangggap remeh, kontribusi sang pemulung tidak bisa dibandingkan dengan pola perilaku oknum elit pemerintah yang semakin membuat malu negara dengan tindakan korupsi dan berbagai perilaku menyimpang lainnya. Oleh karena itu penulis menyarankan kepada pemerintah untuk memberikan perhatian yang lebih kepada kehidupan pemulung. Mereka adalah pahlawan bangsa masa kini yang semakin tidak dianggap.
 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s