Kokohnya Kekuatan Islam Masa Lalu dan Suramnya Partai Islam Masa Kini

Sebagai motor penggerak dalam menghadapi bangsa kolonial, dalam perjalannya Islam justru mengalami pemerosotan dukungan dalam kancah perpolitikan.

Tidak lupa ketika jepang datang untuk menjajah Indonesia. umat islam dari  berbagai kalangan bergabung dengan MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia) yang bertujuan untuk menampung kekuatan Islam dalam visi melawan penjajah, hingga sampai pada akhirnya dibubarkan Jepang karena dianggap berbahaya bagi kepentingan Jepang.

Sebagai gantinya didirikanlah Maysumi oleh Jepang sebagai pengganti MIAI, tentu Masyumi disini sangat kental dengan kepentingan dan kendalikan oleh Jepang, meski begitu berkat kelihaian, ulama islam pada saat itu mampu memanfaatkan keadaan yang dimana umat islam dipersatukan oleh wadah yang bernama Masyumi, dan disini dimulailah gerakan bawah tanah dalam melawan penjajah Jepang secara tersembunyi yang dilakukan umat islam.

Islam pada saat itu digunakan sebagai alat persatuan dalam mengusir penjajah, meski juga terdapat kelompok agama lain yang membantu dalam mengusir penjajah. Hingga sampai pada akhirnya terselenggaralah pemilihan umum tahun 1955 dalam kabinet Burhanuddin Harahap dan total suara partai islam mencapai 43%.

Tingginya dukungan partai islam pada zaman orde lama, tidak terlihat pada pemilihan umum 1999 yang hanya mencapai total suara 36%,  partai islam (PKS, PBB, PPP) dan partai berbasis masa islam (PKB, PAN) terus mengalami pemerosotan suara sampai pada pemilihan umum 2009 yang mendapat dukungan tidak lebih dari 30%,

Meskipun pada pemilihan umum tahun 2004 partai islam dan partai berbasis massa islam mengalami kenaikan menjadi 38 % dari pemilihan umum sebelumnya, namun apabila dilihat dari dinamika perubahan perilaku masyarakat sekarang ini, diprediksi total dukungan partai islam di pemilihan umum 2014 akan mengalami penurunan suara.

Hal tersebut disebabkan karena fenomena politik aliran sudah tidak lagi berpengaruh sebagai penyumbang elektabilitas partai politik. Perilaku pemilih untuk kategori muslim santri dan muslim abangan menjadi sulit untuk ditebak. Secara normatif, muslim santri yakni umat muslim yang memiliki ketaaatan terhadap nilai-nilai agama yang kuat seharusnya lebih cenderung memilih partai islam, berbeda dengan muslim abangan yakni umat muslim dengan ketaatan terhadap agama yang kurang cenderung memilih partai nasionalis, namun di era reformasi teori tersebut gagal menjadi pisau analisis. Faktanya pada pemilihan umum 1999, mayoritas dukungan PDI Perjuangan (63%) diperoleh dari kategori muslim santri, begitupun dengan Pilpres 2004 yakni sebanyak 65% suara nahdliyin beralih ke pasangan SBY-JK.

Selain itu di era reformasi, gejala gerakan de-ideologisasi semakin menular ke partai politik, imbasnya adalah partai politik tidak lagi memiliki bassis ideologi yang kuat, melainkan hanya kekuatan media massa dan uang sebagai tameng, seperti yang sudah diketahui partai islam dan partai berbassis massa islam pada umumnya tidak memiliki kekuatan finansial yang memadai.

Pada umumnya partai nasionalis berhasil melakukan strategi political centrism dan mengambil suara pemilih muslim tanpa meninggalkan captive market tradisional mereka. Dalam fenomena di Indonesia, porsi terbesar pemilih memang berada di tengah, oleh karena itu partai politik di Indonesia berlomba-lomba untuk menjadi partai tengah dalam tujuan untuk menarik konstituen.

Melihat hal itu, partai nasionalis lebih sukses melakukan pergeseran paradigma dari posisioning partai yang awalnya dicap kurang ramah terhadap agenda religious menjadi lebih menerima aspirasi umat islam, tebukti dari dukungan Golkar dan Partai Demokrat terhadap Sisdiknas dan RUU anti-poligami mampu merebut simpati pemilih beragama islam.

Seperti contoh lainnya adalah Partai Demokrat dan Golkar membentuk organisasi sayap khusus untuk pemilih muslim, bahkan PDI Perjuangan yang dianggap partai kurang islam juga mendirikan Baitul Muslimin Indonesia (BAMUSI), hal yang sama juga dilakukan Gerindra dengan mendirikan Gerakan Muslim Indonesia Raya (GEMIRA).

Pergeseran paradigma posisioning politik juga dilakukan oleh partai islam yakni diantaranya adalah PKB dan PAN yang mendekralasikan diri sebagai partai pluralis, belakangan hal yang sama juga dilakukan PKS yang memproklamirkan diri sebagai partai terbuka.

Namun dalam hal ini pergeseran paradigma posisioning politik lebih berhasil dilakukan oleh partai nasionalis, terbukti dari banyaknya umat muslim santri yang lebih memilih partai nasionalis ketimbang partai islam. Komitmen PKB dan PAN sebagai partai pluralis belum mampu menarik pemilih non-Muslim. Bahkan hal buruk bisa saja terjadi jika pemiih muslim mengalami disorientasi Karena partai islam mengubah platform-nya menjadi partai pluralis dan terbuka.

Kesuksesan partai nasionalis dalam melakukan perubahan paradigma posisioning politik, menjadi vitamin bagi keberlangsungan partai nasionalis dalam jangka panjang, berbeda dengan nasib partai islam yang dengan relanya melakukan perubahan posisioning politik demi menarik konstituen, namun strategi yang dilakukan partai islam terus mengalami kegagalan.

Hal terburuk dan resiko yang dialami partai islam adalah pemilih militan justru akan kecewa dengan perubahan paradigma tersebut, jika partai islam tidak segera berbenah diri maka sebagian besar pemilih militan tersebut akan merubah dukungannya kepada partai nasionalis, karena anggapan bahwa partai nasionalis justru lebih islami ketimbang partai islam, ditambah dengan kasus money politics atau jual-beli proses pencalonan non kader yang kerap dilakukan partai islam seperti contoh yang kontoversial adalah eks Wakil Kapolri, Jendral Polisi (Purn.) Adang Daradjatun, yang diduga memberikan “mahar politik” kepada PKS sebagai imbalan pencalonannya dalam pelilihan gubernur DKI Jakarta tahun 2007.

Jika partai islam tidak berbenah diri dalam menyambut pemilihan umum 2014 jangan harap dukungan partai islam akan mengalami kenaikan seperti tahun 2004, bahkan banyak yang menilai partai islam kedepannya akan semakin suram. Seharusnya romatisme kejayaan islam masa lalu mampu menjadi motivasi dan pelecut semangat partai islam dalam menempuh tantangan kedepan.

 

Artikel juga dimuat di halaman http://tangerangnews.com/baca/2012/12/24/8844/kokohnya-kekuatan-islam-masalalu-dan-suramnya-partai-islam-masa-kini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s