Membangun Toleransi dan Menjaga Akidah

Toleransi adalah nilai penting dalam membangun hubungan antar umat beragama yang bermutu, karenanya tidak mungkin ada keharmonisan tanpa adanya toleransi. Keharmonisan tanpa toleransi tidak akan berwujud. Toleransi setengah hati justru akan melahirkan keharmonisan setengah hati pula.

Toleransi yang dialami oleh bangsa Indonesia, termasuk didalamnya adalah toleransi dalam beragama adalah sebuah toleransi yang dipandang setengah hati. Bagaimana tidak? Indonesia masih saja terpengaruh oleh abad pertengahan dalam hal mengamini sebuah kebebasan dan bertoleransi.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) ditahun 1981 terkait memberikan ucapan ‘Selamat Natal’ adalah sebuah pengharaman bagi umat muslim jelas merupakan suatu ancaman besar bagi masa depan keberagaman di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan kondisi kultural bangsa Indonesia yang beragam dan rentan konflik, apalagi apabila menyangkut persoalan agama.

Toleransi setengah hati yang dilakukan MUI telah memberikan garis pemisah antara pemeluk agama di Indonesia, dilain sisi sikap MUI cenderung eksklusif dan sulit menerima perbedaan antar golongan. Padahal Islam yang sesungguhnya adalah islam yang mampu mengayomi semua golongan.

Tujuan mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada umat kristiani bagi umat muslim adalah untuk pergaulan, persaudaraan, dan persahabatan. Ketiganya dilakukan demi kemaslahatan umat. Namun apabila dilihat, akar konflik dari pengucapan ‘Selamat Natal’ bagi umat muslimin adalah suatu kekhawatiran tersendiri bagi umat muslim dalam hal pengaburan akidah.

Beberapa hal penting harus diyakini umat muslim adalah ‘kemaslahatan umat’, sebagai sesama manusia alangkah lebih baik untuk saling menghormati dan bertoleransi. Untuk bisa membangun hubungan harmonis antaragama perlu dicarikan format teologi baru yang bisa menjawab bagaimana sebuah agama seharusnya memandang dirinya dalam hubungan dengan agama lain yakni teologi inklusivis dan pluralis. Lebih jelasnya adalah bagaimana membangun format teologi yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan antar umat beragama tanpa menodai akidah dari masing-masing pemeluk agama sedikitpun.

Anggapan yang mengatakan bahwa mengucapkan ‘Selamat Natal’ adalah sebuah larangan bagi umat muslim karena masuk kedalam ranah akidah, saya kira itu terlalu berlebihan. Agama menuntut  agar  kerukunan  umat dipelihara. Oleh karenanya akan berdosa apabila  kerukunan umat dikorbankan  atas  nama agama dan akan berdosa juga apabila kesucian akidah  ternodai atas  nama kerukunan umat. Oleh karenanya keduanya seharusnya saling melengkapi.

Dalam kacamata interaksi sosial dalam Islam, perayaan Natal yang berkaitan  dengan  Isa  Al-Masih, dirayakan oleh umat Kristiani yang pandangannya terhadap Al-Masih tentu berbeda dengan pandangan Islam. Mengucapkan  ‘Selamat Natal’ oleh umat muslim dianggap dapat  menimbulkan  kesalahpahaman  dan dikhawatirkan akan mengalami pengaburan  akidah.  Hal tersebut justru dapat  dipahami sebagai pengakuan akan ketuhanan  Al-Masih,  karena adanya satu  keyakinan mutlak yang bertentangan dengan akidah Islam. Dari sudut pandang tersebut timbulah sebuah larangan   dan   fatwa   haram tentang pengucapan ‘selamat natal’ oleh umat muslim.

Dalam pespektif ini, larangan dalam mengucapkan ‘Selamat Natal’ muncul dalam rangka untuk memelihara akidah dalam islam. Hal tersebut terlihat bahwa larangan mengucapkan ‘selamat natal’ lebih ditujukan kepada   mereka  yang dikhawatirkan kabur akidahnya. Demikian apabila ada seseorang muslim yang  ketika mengucapkannya tetap murni akidahnya atau  mengucapkannya  sesuai  dengan   kandungan   “Selamat Natal”   ala Qur’ani,   kemudian  mempertimbangkan kondisi  dan situasi dimana hal itu diucapkan, sehingga tidak menimbulkan kerancuan akidah baik bagi dirinya ataupun Muslim yang lain, maka agaknya tidak beralasan  adanya  larangan  pengucapan itu.

Dalam mewujudkan interaksi  sosial  dan  keharmonisan  hubungan, Al-Quran  telah memperkenalkan  satu  bentuk redaksi bahasa, yang dimana lawan bicara  memahami suatu ucapan sesuai dengan    pandangan    atau keyakinannya dan bukan  seperti  yang  dimaksud  oleh pengucapnya. Karena, si  pengucap  sendiri  mengucapkan  dan memahami   redaksi   itu   sesuai   dengan   pandangan   dan keyakinannya. Kalaupun umat kristiani memahami ucapan ‘Selamat Natal’ sesuai  dengan keyakinannya,  maka  biarlah  demikian,  karena  Muslim yang memahami akidahnya akan mengucapkannya sesuai  dengan  garis keyakinannya. Dalam konteks ini kearifan dan kebijaksanaan umat muslim dibutuhkan  dalam  rangka mennjaga interaksi sosial antar pemeluk agama.

Fatwa yang mengatakan haram untuk mengatakan ‘Selamat Natal’ adalah sesuatu yang berlebihan karena seolah-olah menggeneralisir umat muslim, tentu pandangan yang seperti adalah bukan suatu kesalahan karena fatwa dan larangan tersebut memang ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan ternodai akidahnya. Dan tidak salah juga untuk mereka yang membolehkan untuk mengucapkan ‘selamat natal’,  selama  pengucapnya bersikap arif bijaksana dan  tetap  terpelihara  akidahnya. Apalagi diperuntukkan untuk menjaga keharmonisan antar umat beragama karena hal tersebut sangatlah sesuai akidah Islam.

Namun fatwa haram soal mengucapkan ‘Selamat Natal’ oleh umat muslim justru dikhawatirkan akan melahirkan citra negatif tentang islam itu sendiri. Dalam hal ini seolah-olah islam begitu tertutup terhadap perayaan agama lain. Padahal disaat umat muslim merayakan hari raya besar (Idul Fitri dan Idul Adha), umat kristiani dengan segala kemurahan hatinya mampu memberikan ucapan selamat hari raya kepada umat muslim. Tetapi ketika keadaan berubah sebaliknya, umat muslm terlihat sulit untuk memberikan ucapan selamat.

Dengan ini marilah sama-sama umat beragama untuk saling menghargai dan bertoleransi antar sesama. Dalam hal ini pluralisme amat dibutuhkan dalam menjawab segala perbedaan, namun jangan sampai pluralisme mempengaruhi akidah yang tertanam di dalam jiwa manusia. Kearifan dan kebijaksanaan pemeluk agama sangat dibutuhkan dalam mewujudkan keharmomisan antar umat beragama dan juga menjaga akidah yang dipercayai.

Artikel juga diterbitkan di http://bantenpost.com/welcome/pageop/BO0068

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s