Ketika Generasi Muda Bicara 71 Tahun Indonesia

Oleh: Hendra Sunandar[1]

buku jemmy

Tepat 17 Agustus 2016, Indonesia memasuki usia ke 71 tahun. Tentu ini usia yang tidak lagi muda, sehingga sudah seharusnya momentum ini dijadikan ajang untuk terus memperbaiki diri guna menemukan arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Jemmy Setiawan, mantan aktivis yang menghabiskan waktu di Yogyakarta belum lama ini menulis sebuah buku dengan judul “Nasionalisme Retorika Gombal” yang didalamnya menyoroti nasionalisme dari berbagai aspek.

Buku yang diterbitkan oleh PT Elex Media Komputindo ini terbagi dalam tiga bagian, yakni potret nasionalisme di sudut negeri, redupnya nasionalisme dan menumbuhkembangkan kembali nasionalisme.

Pada bagian pertama, Jemmy menjelaskan tentang konteksualisasi nasionalisme yang terjadi di daerah perbatasan, khususnya suku Dayak. Ia menjelaskan bahwa nasionalisme yang terjadi saat ini kian luntur dan hanya ada dalam retorika pidato saja.

Bagi Jemmy, semangat nasionalisme terbukti efektif sebagai alat perjuangan. Hal itu terbukti ketika bangsa Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari cengkraman kolonial. Saat itu, nasionalisme dipakai sebagai metode perlawanan dan alat identifikasi untuk mengetahui siapa lawan dan kawan.

Namun, kini dalam bukunya, Jemmy menjelaskan bahwa  hal itu tinggal kenangan. Melalui cerita yang diperoleh dari Bernadus, ia menjelaskan bahwa simbol kenegaraan itu kian luntur. Jemmy pun menegaskan bahwa jiwa nasionalisme adalah ketika pemimpin negara sebagai patron mampu memberi pengorbanan nyata dalam kehidupan masyaraakat, bukan sebatas wacana dan kata-kata kosong tanpa makna.

Misalnya djielaskan, dahulu pada 17 Desember 1946, tertoreh sejarah bahwa suku Dayak adalah satu-satunya suku di Indonesia yang menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia melalui tata upacara sakral yang dipimpin oleh Cilik Riwut di hadapan Presiden Soekarno di Gedung Agung Istana Presiden, Yogyakarta.

Namun, Jemmy menjelaskan, meskipun begitu pada orde lama masyarakat Kalimantan banyak diperalat untuk gerakan Paraku yakni perang melawan China. Bernadus adalah salah satu referensi yang digunakan Jemmy dalam bukunya ketika menceritakan bagaimana nasionalisme di era orde baru yang dialami masyarakat Kalimantan.

Dalam bukunya dijelaskan, nasionalisme pada orde baru, Soeharto tampil sebagai penguasa yang berdamai dengan Malaysia. Paraku-PGRS mengalami gempuran dan kerusuhan anti-Tionghoa di Kalimantan Barat pada 1967 sebagai rekonsilisasi Jakarta-Kuala Lumpur. Dalam bukunya Jemmy menjelaskan bahwa Paraku-PGRS terlupakan dalam lembaran sejarah seiring kukuhnya Orde Baru.

Selain itu, pada bagian kedua,  Jemmy menyoroti tentang faktor redupnya nasionalisme di kalangan generasi muda. Beberapa diantaranyam, Ia menjelaskan bahwa hal itu disebabkan oleh empat aspek, yakni perilaku pejabat, kecewa terhadap kinerja pemerintah, individualisme etnosentris, kurang tertarik pada budaya sendiri.

Pertama, perilaku pejabat, Jemmy menuturkan bahwa perilaku pejabat yang kurang educated secara moral dan sikap sembrono cenderung lebih mengutamakan kepentingan sendiri dan kelompok dibanding negara hal itu tercermin dari banyaknya pejabat yang etrtangkap oleh KPK. Hal ini menurutnya juga berimbas pada sikap nasionalisme di kalangan generasi muda, seharunys generasi tua mampu memberikan suri tauladan yang baik agar ditiru oleh generasi penerusnya.

Kedua, kecewa atas kinerja pemerintah, Jemmy menekankan bahwa redupnya nasionalisme juga dipengaruhi atas rasa kecewa terhadap kinerja pemerintah. Sebagian pejabat melakukan tindak korupsi dan penyalahgunaan narkoba sehingga menimbulkan rasa kecewa di kalangan anak muda.

Ketiga, individualisme etnosentris, mantan Aktivis Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia (ISMAHI) ini pun menilai sikap pemuda sendiri cenderung lebih mementingkan daerahnya sendiri secara berlebihan. Bagi Jemmy, sikap ini memicu terbelahnya rasa persatuan bangsa.

Keempat, kurang tertarik pada budaya sendiri, Jemmy menilai bahwa redupnya nasionalisme di kalangan muda disebabkan kurangnya pemahaman tentang kultur dan sejarah bangsanya sendiri. Ia menilai bahwa generasi muda lebih tertarik pada budaya luar yang dianggap sebagai simbol generasi yang mengikuti zaman. Terlebih, Jemmy menilai ada gejala generasi muda malu mengenakan produk lokal karena dianggap sebagai produk yang ketinggalan zaman.

Pada bagian ketiga, Jemmy menyoroti upaya untuk menumbuhkembangkan nasionalisme. Sehingga buku ni tidak saja memberikan kritik terhadap nasionalisme pemuda saat ini, namun juga memberikan solusi atas sebuah permasalahan yang dipaparkan. Oleh karenanya tidak salah jika buku ini menemukan keseimbangannya sendiri.

Jemmy mengatakan bahwa nasionalisme harus diremajakan sehingga selalu ada alasan untuk mencintai bangsa. Setiap pemimpin harus mampu dan inovatif menemukan cara-cara untuk menambah kecintaan bangsa untuk masyarakatnya.

Ia menegaskan bahwa tanpa peremajaan nasionalisme. Rasa kecintaan bangsa akan meredup. Seperti organisme hidup, menuntut adanya kelangsungan hidup yang diperoleh dari makanan yang sehat dan kebutuhan dasar dipenuhi. Hal yang sama juga terjadi dalam kecintaan terhadap bangsa. Jika sudah tidak ada cinta dan peduli, maka masyarakat tidak merasa memiliki dan mencintai.

Selain itu, revitalisasi kewaspadaan nasional menurut Jemmy sebagai upaya untuk meningkatkan nasionalisme. Ia menekankan agar kita semua membuka mata terhadap segala potensi dan tantangan yang harus dihadapi Indonesia sebagai bangsa. Bagi Jemmy, aplikasi kewaspadaan nasional ini melahirkan kemampuan bangsa mendeteksi dan mengenali ancaman. Sehingga dengan sendirinya akan timbul rasa kewaspadaan yang berujung pada tumbuhnya nasionalisme.

Terakhir, Jemmy menekankan agar nasionalisme dimaknai sebagai dengan nilai baru (rejuvensi), yang berarti harus ada kontekstualisasi dalam makna pembebasan nasional yang aktual. Ia juga menekankan agar para pemimpin berani mengambil keputusan yang memiliki sinergitas antar komunitas yang heterogen. Dalam buku ini, Jemmy juga menghimbau agar perbedaan yang ada dapat lebih diarahkan untuk membangun kebersamaan bagi seluruh komponen bangsa.

Sebagai buku yang mengobarkan semangat bagi pembacanya, karya ini layak dibaca bagi siapapun, tanpa mengenai usia, ras dan etnik. Bagi generasi muda, buku ini sebagai pemantik untuk meningkatkan kobaran nasionalisme untuk menghadapi masa depan yang kian kompetitif. Bahkan mantan Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin dalam pengantarnya menyebutkan buku ini cukup memberikan gelora bagi pembacanya dan jika gelora itu dikelola dengan baik oleh pemangku kepentingan, tidak berlebihan akan membawa Indonesia dalam usia ke 71 menjadi negara yang lebih kompetitif dalam persiangan gobal. Merdeka!

[1] Penulis adalah lulusan Program Studi Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta. Pemerhati Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s